​Semoga ada bagian dari tulisanku yang bisa tersimpan di hati. Terima kasih sudah menemaniku bercerita hari ini. Jangan lupa kembali lagi untuk menjelajahi kategori favoritmu di blog ini!<3

Menanti Mekar di Musim yang Dingin

menanti mekar di musim yang dingin-hanimods

Gagal mungkin hanyalah sebuah kata yang lazim bagi telinga dunia, namun bagiku, ia adalah sembilu yang menyayat palung jiwa paling dalam. Aku sedang berziarah di dalam rasa kecewa. Sebuah labirin sunyi yang kuharap segera menemukan ujungnya. Ada beban yang menghimpit dada, perasaan menjadi satu-satunya dahan yang belum mampu memberi teduh bagi mereka yang melahirkanku. Aku tahu, mereka tidak pernah memintanya. Namun, aku mampu membaca penantian mereka yang membisu di sudut-sudut rumah ini. Rumah ini begitu hangat, namun entah mengapa, kehangatannya terasa seperti tusukan ribuan jarum yang menembus hingga ke sumsum tulang. Sebuah kehangatan yang mendikte keterlambatanku dalam diam.

Luka ini kian memekat saat mataku menangkap binar kemenangan kawan-kawan sebaya yang telah lebih dulu mendapatkan bintang mereka. Aku paham, setiap jiwa memiliki kalendernya sendiri. Aku percaya, akan ada masanya musim semiku tiba, membawa hembusan angin yang memeluk raga dan menyulut mekarnya kuncup-kuncup kebahagiaan yang selama ini tersembunyi. Namun saat ini, aku masih berada di tengah badai salju, bersimpuh dalam doa dan usaha yang tulus untuk raga-raga yang kucintai.

Di atas sajadah, aku menabur benih doa dan usaha, bersimbah peluh untuk kedua raga yang menjadi muara hidupku. Aku bertanya-tanya pada sunyi “Apakah tapak kaki ini sudah berada di jalur yang benar? Mampukah aku menyuguhkan harum bunga hasil panen dari tanah yang selama ini membeku?”

Ya, aku harus percaya pada pupuk air mata yang kutabur. Semoga ia tidak salah jalan, melainkan menjadi nutrisi bagi buah yang akan tumbuh paling indah, perlahan, namun kekal sepanjang masa.

Maafkan aku yang masih sering meratapi terjalnya pendakian ini. Dan terima kasih, wahai dermaga sabarku, Ayah dan Ibu, yang telah menanti dengan hati yang bahasanya tak mampu kuterjemahkan. Bahagialah, biarlah berkah semesta menjadi selimut yang menjagamu senantiasa.

Kadang, musim dingin terasa begitu panjang hingga kita lupa bagaimana rasanya hangat matahari. Bagi kalian yang juga sedang merawat benih di tengah badai, adakah doa yang ingin kalian bisikkan hari ini?

Mari saling menguatkan di ruang komentar, tempat kita berbagi lelah yang sama.

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *