Sudah satu minggu ini kakiku melangkah menelusuri aspal yang sama, menjemput satu demi satu undangan wawancara yang jaraknya masih mampu kupeluk dari rumah. Namun, nasib nampaknya masih senang bermain petak umpet. Aku berkali-kali sampai di depan pintu terakhir “wawancara user” hanya untuk melihat pintu itu kembali tertutup pelan sebelum aku benar-benar masuk.
Hingga sampailah aku di satu titik yang kukira adalah muara kabar baik. Namun, alih-alih sambutan hangat, aku justru dihadapkan pada sebuah meja yang terasa sangat dingin.
Di sana, pengalamanku yang baru seumur jagung dan jejak freelance-ku dianggap sebagai angin lalu. Mereka menyebutku “ember kosong”. Sebuah wadah yang belum terisi air, sehingga dianggap tidak layak meminta upah yang bahkan hanya setara dengan batas minimum kehidupan (UMR).
Ada tawa yang terselip saat aku mencoba menegosiasikan hak atas porsi pekerjaan yang luar biasa berat. Mereka bilang, permintaan itu adalah bukti bahwa generasiku adalah “buah yang mudah busuk” – lunak, rapuh, dan tidak tahan banting. Padahal, yang aku minta hanyalah keseimbangan. Sebuah cermin yang memantulkan beban kerja dan apresiasi secara adil. Apakah salah jika sebuah ember ingin diisi dengan air yang bersih, bukan dengan beban yang mematahkan gagangnya?
Jujur, jiwaku sedang berperang. Di satu sisi, ada wajah orang tua yang selalu terbayang, harapan mereka adalah oksigen bagiku. Namun di sisi lain, menerima pekerjaan ini terasa seperti berjalan sukarela ke dalam jeruji yang akan menggerus kesehatan mentalku yang sudah penuh luka lama.
Aku tidak takut bekerja keras. Aku hanya takut bekerja di tempat di mana harga diriku dikerdilkan sebelum aku sempat membuktikan apa yang bisa aku berikan. Aku masih percaya, di luar sana ada sebuah “hutan hijau” sebuah perusahaan yang mampu menumbuhkan karyawannya dengan ekosistem yang sehat, bukan dengan meruntuhkan akarnya.
Haruskah aku mengambil langkah di ladang berduri ini demi sebuah status, atau tetap menunggu hujan turun di hutan yang lebih ramah?
Pernahkah kalian berada di posisi di mana idealisme dan kebutuhan hidup saling bertabrakan? Aku ingin mendengar sudut pandang kalian di kolom komentar ya. Mari kita saling menguatkan di tengah hutan beton ini.


Tinggalkan Balasan