​Semoga ada bagian dari tulisanku yang bisa tersimpan di hati. Terima kasih sudah menemaniku bercerita hari ini. Jangan lupa kembali lagi untuk menjelajahi kategori favoritmu di blog ini!<3

Duri dalam Sukacita: Tentang Mereka yang Sampai dan Aku yang Tertinggal

A woman in silhouette stands by a tranquil lake during twilight, evoking peace and solitude.

​“I felt so sad.” Kalimat itu bukan sekadar rangkaian kata, melainkan hantu yang setia mengetuk pintu batin setiap waktu. Aku paham, berlama-lama memeluk lara adalah sebuah kesalahan. Namun kali ini, rasanya berbeda. Ini tentang sebuah bangku kosong bernama pekerjaan, tentang aku yang masih berdiri di peron sementara kereta-kereta lain sudah melaju jauh.
​Ada sembilu yang menyayat ketika melihat mereka teman-teman seperjuangan, telah menemukan dermaganya masing-masing. Aku tahu, seharusnya aku menaburkan bunga kebahagiaan di atas keberhasilan mereka. Namun, hatiku justru terasa perih, tertusuk duri-duri pikiran buruk yang telah lama mengakar. Aku merasa berdosa atas rasa sakit ini, namun kehampaan ini begitu pekat hingga air mata pun seolah telah mengering, meninggalkan lelah yang tak berujung.

​Dalam ketegangan yang menyesakkan, aku masih berdiri di sini. Hanya belajar dan doa yang menjadi napas pendekku. Aku sering bertanya pada sepi: “Adakah jalanku yang keliru? Adakah cara lain yang belum kutempuh?”

​Aku percaya pada janji Sang Pemilik Waktu, bahwa rencana-Nya adalah mahakarya yang indah. Namun, rintangan ini terasa begitu panjang dan terjal. Aku mulai bertanya-tanya pada langit, “Kapan? Kapan giliranku akan tiba?”
​Di setiap sujud, aku hanya memohon agar penantian ini segera berakhir dengan harmonis. Agar kelak, kebahagiaan itu datang bukan sebagai tamu sementara, melainkan sebagai penghuni tetap dalam hidupku, selamanya.

​Untuk diriku yang sedang berjuang, mari bertahan sedikit lebih lama lagi. Cahaya itu tidak padam, ia hanya sedang menunggumu di tikungan yang tepat.

Comments

Satu tanggapan untuk “Duri dalam Sukacita: Tentang Mereka yang Sampai dan Aku yang Tertinggal”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *