Entah mengapa, setiap tahun, ada satu bayangan yang selalu datang menyapa: Birthday Blues. Kedengarannya memang paradoks, di tengah seremonial sukacita, yang menyambut justru adalah rasa sedih yang sunyi, diiringi kehampaan yang terasa begitu nyata.
Sudah lima tahun ritual kesenduan ini berulang. Ia bukan hanya mengambil kebahagiaan, tetapi juga membisikkan bahwa setiap langkah yang telah diambil selalu berujung pada kekeliruan dan kekecewaan.
Baru sebulan lalu sang waktu berputar ke titik awal, alih-alih merayakan usia baru, aku kembali dihadapkan pada badai emosi yang lebih pekat. Segala rasa negatif datang bertubi-tubi.. depresi, kecewa, amarah, hingga titik terlelah di mana air mata pun terasa enggan menetes setiap malamnya.
Sikap menyalahkan diri sendiri ini bukan tanpa jangkar. Beban sebagai seorang kakak yang merasa belum mampu menjadi apa-apa, ditambah sulitnya mencari pintu rezeki di tengah kerasnya lapang kerja, seolah menjadi pemicu yang menarik jiwa ini ke dasar. Di tengah pergulatan batin itu, raga pun turut dihantam cobaan: kaki ini sempat terkilir parah hingga terpaksa tertatih selama tiga pekan.
Mengapa cobaan seakan berbaris rapi menjelang, saat, dan sesudah hari lahir? Pertanyaan itu selalu menggantung tanpa jawaban: Adakah yang keliru dari lembaran hidup ini? Apakah kesalahan fatal di masa lalu kini menagih timbalan buruk yang harus dipikul? Ah, andai saja semua ini hanya ilusi semata, sebuah Genjutsu yang dapat dipatahkan.
Meski kelelahan dan amarah pada diri sendiri ini terasa berlebihan dan menyesakkan, saya harus memaksakan jeda. Kini, saya mencari selimut di antara kesibukan yang baru: merangkai aksara dalam buku, mengeja kata dalam bahasa asing, melukis ketenangan, memainkan nada, sembari terus menabur benih harapan melalui setiap lamaran pekerjaan.
Semoga di tahun yang akan datang, segala yang datang adalah kabar baik, kebahagiaan sejati, dan segala hal positif yang dapat mengubah kesunyian ini menjadi semerbak bunga. Amin.


Tinggalkan Balasan