​Semoga ada bagian dari tulisanku yang bisa tersimpan di hati. Terima kasih sudah menemaniku bercerita hari ini. Jangan lupa kembali lagi untuk menjelajahi kategori favoritmu di blog ini!<3

Layar yang Padam dan Harapan yang Karam

Layar yang Padam dan Harapan yang Karam-hanimods

Pekerjaan impian itu tadinya sudah ada di depan mata, sedekat jarak jemari dengan layar. Segalanya berjalan lancar, sebuah dialog yang manis, hingga satu kelalaian kecil menghancurkan seluruh narasi yang sedang kubangun. Sebuah sentuhan tak sengaja, layar yang mendadak gulita, dan seketika aku terlempar keluar dari pintu yang nyaris terbuka itu.

Aku sempat mencoba memupuk “berprasangka baik” di dalam kepala. Menghibur diri dengan angan bahwa mungkin aku tetaplah opsi cadangan, sebuah pilihan kedua yang tetap berharga. Namun kenyataan datang membawa sunyi yang dingin. Segala hal positif itu hanyalah fatamorgana yang kupaksa tumbuh di padang sesal.

Kelalaian ini adalah belati yang kutempa sendiri, dan kini ia menghunjam tepat di ulu hati. Aku menyesal, sungguh menyesal. Kesempatan langka itu.. gerbang bagi seorang pemimpi sepertiku untuk terjun ke bidang yang kuidamkan kini tertutup rapat hanya karena satu detik kecerobohan.

Akankah semesta masih menyimpan sisa kebaikan di waktu yang sedekat ini? 

Bagaimana aku harus melangkah saat kakiku masih terasa kelu oleh kecewa?

Aku tahu, di depan sana ada ribuan jalan setapak, meski mungkin jalurnya berkelok dan penuh jurang yang menganga. Di awal tahun yang baru ini, aku hanya bisa bersimpuh, memohon agar Tuhan membungkus kesuksesanku kelak dengan rahmat-Nya yang tak terhingga. Kesedihan ini mungkin tak pernah benar-benar sirna, ia hanya menetap sebagai guru yang kejam namun penuh pelajaran. Aku lelah, tapi aku menolak untuk berhenti.

Kadang, kegagalan paling menyakitkan adalah saat kita merasa menjadi penyebab utamanya. Bagi kalian yang juga sedang bertarung dengan rasa menyesal, mari saling membagi beban di kolom komentar. Ceritakan bagaimana kalian bangkit dari ‘layar yang padam’ dalam hidup kalian. Aku di sini untuk mendengarkan.

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *