Malam itu, jam seolah berhenti berdetak, namun pikiranku justru berlari maraton tanpa henti. Di tengah sunyi, suara-suara tentang “menjadi beban” dan “masa depan yang masih abu-abu” bergema lebih keras dari biasanya. Ada rasa sesak saat menyadari bahwa mata yang kucintai hanya melihatku saat aku sedang merebahkan raga, tanpa pernah tahu betapa berdarah-darahnya aku di balik layar, mengejar ratusan peluang yang berakhir dengan kebuntuan.
Aku baru menyerah pada kantuk saat ayam sudah berkokok, ketika cahaya pagi bahkan enggan menyapa karena langit masih betah bersembunyi di balik jubah musim hujan. Di sela-sela lelap yang singkat itu, aku terjebak dalam sebuah sinema bawah sadar yang begitu nyata.
Dalam mimpi itu, aku kembali memakai seragam sekolah, melintasi jalan pintas menuju stasiun bersama kawan lama. Namun, langkah kami terhenti di sebuah tempat yang ganjil, sebuah rumah ibadah dengan makam-makam kecil yang melayang dalam sunyi. Saat berhasil keluar, aku justru terjebak dalam antrean panjang yang kupikir menuju peron, namun ternyata itu adalah barisan panjang para pencari harapan.. barisan pelamar kerja.
Segalanya bergerak seperti kilat. Aku sampai di garda terdepan, melewati wawancara yang aneh, hingga berakhir menyetir mobil di tengah tempat horor yang dipenuhi entitas tak kasat mata. Rasa takut itu nyata, namun ajaibnya, aku berhasil melaluinya.
Puncaknya, aku dinyatakan lolos. Aku bekerja untuk seorang aktor besar dari Negeri Gingseng. Kami berpelukan erat, seolah sudah saling mengenal dalam waktu yang lama. Ada rasa bahagia yang membuncah, namun di sudut lain hatiku, aku merasa bingung.
Saat kelopak mataku terbuka, aku baru menyadari bahwa mimpi itu adalah cermin retak. Air mata mengalir tanpa sadar begitu derasnya. Ia merefleksikan dua sisi dalam diriku: keinginan yang memuncak untuk segera “sampai”, sekaligus ketakutan dan penyesalan mendalam atas kesalahan interview yang pernah kulakukan di dunia nyata. Mimpi itu memutar kembali kegagalanku, namun membungkusnya dengan akhir yang manis sebagai pelipur lara.
Aku sadar, lelah ini belum usai. Namun di awal tahun yang penuh rahmat ini, aku tetap berdoa agar sinema indah dalam tidurku itu segera bertransformasi menjadi realita yang bisa kusentuh.
Pernahkah kalian merasa bahwa mimpi hanyalah cara otak kita memproses ketakutan yang paling dalam? Atau mungkin, mimpi adalah pesan dari semesta tentang apa yang akan segera tiba? Mari saling berbagi cerita tentang mimpi paling aneh atau momen overthinking kalian di kolom komentar. Kita berjuang bersama di sini.


Tinggalkan Balasan